Connect with us

OPINI

STRATEGI RUBEN ONSU MEMULIHKAN CITRA INSTITUSI BISNISNYA

Published

on

Ruben Onsu dan Pengusaha Indonesia, Sandiaga Uno.

Oleh : Budi Purnomo Karjodihardjo

Setiap kabar kurang sedap yang menimpa terhadap tokoh ataupun institusi pada hakekatnya pasti harus diklarifikasikan dan diluruskan sesegera mungkin.

Prof William Benoit yang melahirkan Image Restoration Theory menyebutkan bahwa terlepas dari persepsi publik itu salah atau benar, tetapi dari sisi komunikasi pada prinsipnya setiap tokoh atau institusi ingin agar dirinya terlihat lebih baik dan terlihat lebih benar.

Jika pun kabar tidak sedap itu datangnya dari internal personal/korporasi tentu harus “dibereskan”. Apalagi jika kabar tidak sedap itu datangnya dari eksternal, tentu saja hal ini sifatnya menjadi sangat mendesak untuk disolusikan

Itulah sebabnya mengapa dalam setiap strategi komunikasi (apalagi ketika terjadi krisis komunikasi) seperti yang dialami selebritas diperlukan upaya-upaya pemulihan citra dan reputation recovery seperti yang disampaikan dalam teori komunikasi Image Restoration Theory.

SERANGAN ISU PESUGIHAN

Belum lama ini, usaha kuliner milik presenter sekaligus artis Ruben Onsu diusik kabar tidak sedap hingga dituding isu pesugihan.

Ramai diberitakan media, awal mula isu tersebut berhembus dari sebuah video YouTube milik Robby Purba yang tengah berbincang dengan Roy Kiyoshi serta anak indigo bernama Dephienne.

Dalam video itu, Roy Kiyoshi membahas mengenai beberapa ciri-ciri restoran yang memakai pesugihan atau bisa dibilang penglaris. Sontak pertanyaan yang lantas dilayangkan Robby Purba mengenai siapa saja yang memakai pesugihan.

Kepada Dephienne, Robby hanya meminta inisial restoran terkenal yang memakai pesugihan hingga kemudian muncul dengan inisial “G” dan kepada Roy Kiyoshi, Robby Purba kembali bertanya soal restoran yang memakai pesugihan yang memakan nyawa. Di sini, Roy mengeluarkan inisial huruf “R”.

Sayang tak lama setelah itu, ada sebuah akun YouTube yang bernama Hikmah Kehidupan justru kembali mengunggah video potongan obrolan dari Robby Purba, Roy Kiyoshi dan Dephienne mengenai restoran yang menggunakan penglaris.

Tak hanya itu, media onlime Kompas menulis, akun tersebut menuding restoran Ruben Onsu lah yang memakai pesugihan. Dari sini isu itu berkembang hingga memunculkan fitnah untuk Ruben Onsu.

IMAGE RESTORATION THEORY: ATTACT ACCUSER

Saya tidak ingin membahas soal content material terkait masalah hukumnya, marena hingga saat ini masalah tersebut masih jadi trending pemberitaan di berbagai saluran berita infotainment.

Secara khusus kita akan memotret strategi komunikasi yang dilakukan oleh Robin Onsu dari kacamata teori pemulihan citra yang saya pahami.

Salah satu pilar penting dalam implementasi Image Restoration Theory atau teori pemulihan citra ini adalah strategi yang disebut Reducing Offensiveness of Event.

Dalam strategi Reducing Offensiveness of Event, goalnya nanti akan mengkondisikan bahwa pihaknya menjadi korban akibat kabar buruk yang bisa jadi akibat kesalahan informasi.

Dengan demikian, sebagai korban, Robin Onsu dan institusi bisnisnya sangat tidak pantas mendapat serangan isu negatif sehingga publik diharapkan mengabaikan kabar buruk tersebut.

Nah, dari sekian pilihan Reducing Offensiveness of Event, menurut saya (disadari atau tidak) Robin Onsu terlihat memilih implementasi dari strategi komunikasi ROE yang nomer lima, yaitu Attack Accuser.

Cara kerja Attack Accuser adalah dengan menyerang kredibilitas yang menuduh, dan dengan mempertanyakan kompetensi, latar belakang, track record dan hal-hal lainnya, agar perhatian negatif publik pun berpindah ke si penuduh.

Merespon isu yang sudah berkembang, pihak Robin Onsu mengggandeng pengacara Minola Sebayang yang resmi mempolisikan akun YouTube Hikmah Kehidupan yang fitnah usahanya pada Senin (11/11/2019).

Jordi Onsu menjerat akun tersebut dengan Pasal 27 Ayat (3) jo Pasal 45 ayat (3) UU RI Nomor 19 Tahun 2016 tentang ITE. Laporan ini telah terdaftar dengan nomor LP/7253/XI/2019/PMJ/Dit. Reskrimsus

“Kami melapor satu akun digital yang sudah memberikan berita bohong, yang isinya fitnah dan pencemaran nama baik,” ucap Minola Sebayang.

Implementasi dari program ini bisa dilihat bukan hanya di dunia nyata, dan di persidangan, juga di dunia digital pun strategi Attack Accuser ini bisa terlihat dan efektif.

Publik juga mulai bersimpati kepada Robin Onsu, semetara itu penyerangnya yang menyebarkan kabar buruk di medsos, jika tidak punya bukti, dipastikan bakal kesulitan untuk membuktikan masalah isu pesugihan ini.

BUKAN SATU-SATUNYA STRATEGI PEMULIHAN CITRA

Reducing Offensiveness of Event, bukanlah satu-satunya cara untuk memulihkan citra. Dalam Image Restoration Theory, selain strategi Attack Accuser, sebenarnya masih ada lima strategi lainnya di dalam lingkup strategi Reducing Offensiveness of Event (ROE).

Menurut saya, strategi komunikasi yang lainnya pun perlu dipertimbangkan ketika mengalami persoalan krisis komunikasi seperti ini, agar meraih simpati publik.

Namun demikian, tidak semua krisis komunikasi selalu cocok dengan cara-cara pemulihan citra berdasarkan Image Restoration Theory, berikut ini :

Pertama, adalah Bolstering. Yaitu dengan mengutip dan menyajikan data-data mengenai tindakan-tindakan positif sebanyak mungkin yang sudah dilakukan di masa lalu, dan bisa diterima publik dengan baik.

Kedua, adalah Minimization. Melakukan upaya-upaya yang bisa mengurangi perasaan negatif dengan cara-cara persuasi kepada publik, sekaligus meyakinkan publik bahwa yang terjadi tidaklah seburuk seperti yang dipikirkan, dipersepsikan, atau bahkan yang terjadi.

Ketiga, adalah Differensiasi. Yaitu dengan membandingkan perbedaan perlakuan atas kesalahan yang dilakukannya dengan yang dilakukan orang lain yang juga melakukan hal yang sama.

Keempat, adalah Trancendence. Yaitu dengan membandingkan suatu kejadian tetapi dalam konteks yang berbeda.

Kelima, adalah Compensation. Yaitu dengan memberikan ganti rugi sebagai bentuk tanggungjawab atau menebus kesalahan yang telah terjadi, agar perbuatannya diampuni dan reputasi balik menjadi baik.

KABAR BURUK SELALU MERUGIKAN

Kerugian dan dampak bagi Robin Unsu akibat kabar tidak sedap ini bisa dikalkulasi. Secara inmaterial sudah terasa bagi pihak Ruben Onsu. Kalau untuk kerugian material, pihak Ruben Onsu masih belum dapat berbicara banyak.

“Pasti ada efeknya dan ada akibat hukum yang ditimbulkan. Kerugiannya masih immaterial, karena pencemaran nama baik ya dan privasinya kami yang sudah diganggu ya,” kata pengacara Robin Onsu.

Menghadapi persoalan komunikasi yang rumit, memang diperlukan strategi yang tepat akan menghasilkan pencitraan sesuai dengan yang diharapkan.

Pilihan-pilihan implementasi dalam Image Restoration Theory di atas dapat menjadi referensi untuk pengambilan keputusan untuk menghandle crisis of communications.

Soal efektifitasnya, tentu harus disimulasikan dengan seksama. Namun memilih resiko yang kecil dengan respon publik yang paling bersahabat, saya rasa itulah yang paling efektif.

Yang jelas, jika personal/institusi sedang mengalami krisis komunikasi, jangan tenggelam atau diam di dalam jurang kegelapan. (*)

Budi Purnomo Karjodihardjo adalah seorang mediapreneur dan praktisi komunikasi. Budi dan timnya, RESTART – Media Restoration Agency, menyediakan waktu untuk membantu personal/korporasi yang menghadapi masalah komunikasi dengan pendekatan Image Restoration Theory.


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

OPINI

SUDAHKAH BERITA ANDA MASUK HALAMAN SATU GOOGLE?

Published

on

Dengan ORM yang tepat maka berita korporasi/Anda bisa menempatkannya pada laman pertama Google, kecuali berIta negatif yang ingin digeser ke belakang.

Oleh : Budi Purnomo Karjodihardjo

SIAPA sih yang tidak ingin berita positif Anda atau korporasi Anda bisa dipublikasikan di media online, dan kemudian masuk dalam 10 berita di dalam situs mesin pencari terbesar di dunia, Google? Tidak ada.

Sebenarnya, ada dua kelompok yang sebenarnya tidak mau masuk di halaman satu Google. Pertama, koporasi/tokoh yang reputasi buruk dengan berbagai permasalahannya, misalnya ‘ skandal, korupsi, kejahatan, dan yang berurusan dengan pihak yang berwajib.

Kedua, korporasi/tokoh yang yang sedang diserang krisis berupa kritik yang negatif, tudingan yang tidak benar, ataupun bencana atau musibah yang menimpa yang berpotensi meruntuhkan korporasi/Anda.

Bagi kelompok kedua ini, jika ditangani dengan manajemen reputasi yang tepat maka reputasi korporasi/Anda bisa cepat recovery, citranya pulih kembali menjadi baik dengan strategi restorasi reputasi.

Di dunia komunikasi, berlaku hukum alam yang menyebutkan bahwa semua institusi maupun semua orang ingin reputasinya selalu baik, dan citranya ingin selalu bersinar.

Baik, yang ingin berita positifnya ingin tampil di halaman pertama Google, maupun bagi yang tidak mau berita negatifnya ingin tampil di halaman pertama Google.

Ya, semuanya sama saja. Ingin reputasi dan citranya selalu baik.

Peranan Online Reputation Management

Untuk bisa mengelola berita di halaman satu Google tentu saja diperlukan sebuah tim yang bisa memonitor semua informasi dari internet, terutama yang bersumber dari media online, dan media sosial dan mengelolanya sebagai bahan implementasi dari strategi komunikasi.
Kita menyebutnya sebagai Tim Online Reputation Management (ORP).

Tim ORP in akan merancang dan mengeksukusi praktek-praktek ORP sehingga berita positif muncul di halaman depan Google, dan berita negatif digeser ke halaman belakang Google.

Secara teknis, dapat dijelaskan bahwa Tim ORP akan membuat sejumlah konten positif yang diperlukan di berbagai media online, situs berita nasional, Blog dan Website.

Agar busa tampil di halaman pertama situs pencari, maka akan disusun sesuai dengan target yang diinginkan.

Memerlukan Tim ORM terpadu yang melibatkan team kreatif mulai dari jaringan Blog, Website yang dikelola, situs berita Indonesia, social media manager hingga pakar optimasi, penggiat jasa SEO dan pelaku Online PR (Public Relation).

Dengan ORM yang tepat maka berita korporasi/Anda bisa menempatkkannya pada laman pertama Google, kecuali berta negatif yang ingin digeser ke belakang.

Bukan tidak mungkin, jika momentumnya tepat, dapat berpotensi dibagikan oleh netizen, menjadi viral.

Setelah Masuk Google, Lalu Apa?

Ya terserah Korporasi/Anda mau ngapain. Yang jelas, sekarang reputasi korporasi online Anda sudah menjadi baik, dan citra Anda di halaman satu Google sudah bersih dari polusi berita negatif.

Sudah sangat bagus.
Dengan reputasi yang baik, korporasi akan memperoleh banyak benefit.

Misalnya, pertama, membangun kredibilitas perusahaan.

Kedua, menarik media massa untuk meliput berita dari perusahaan secara gratis sehingga mengurangi biaya komunikasi perusahaan.

Ketiga, jika ada produk yang diluncurkan akan lebih mudah diterima oleh konsumen sehingga biaya peluncuran produk akan lebih rendah.

Keempat, mempermudah pemasaran produk untuk memasuki pasar yang baru, membuka peluang dalam menetapkan harga permium.

Kelima, meningkatkan brand loyalt. Keenam, meningkatkan market share. Ketujuh, menarik bagi investor.

Biasanya setelah reputasi baik, maka langkah korporasi/Anda ke depan akan lebih ringan ke depannya. Lebih percaya diri untuk melakukan manuver bisnis, karena reputasi baik sudah ada di tangan, sehingga sulit mencari jejak negatif di dunia online. Semoga sukses.

Budi Purnomo Karjodihardjo adalah praktisi media dan komunikasi.

Baca juga tulisan Budi Purnomo Karjodihardjo yang lainnya, terutama seputar manajemen reputasi, manajemen krisis, pencitraan, restorasi reputasi, dan pemulihan citra di official website Budipurnomo.com. Terima kasih.

Budi dan timnya, RESTART – Media Restoration Agency, menyediakan waktu untuk membantu personal/korporasi yang menghadapi masalah komunikasi dengan pendekatan Crisis Management, Image Restoration Theory, dan Online Reputation Management]


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

OPINI

BILLY MAMBRASAR DAN UPAYA PEMULIHAN CITRA STAFSUS MILENIAL

Published

on

Staf Khusus (Milenial) Presiden Jokowi, Billy Mambrasar.

Oleh : Budi Purnomo Karjodihardjo

Siapapun tokohnya, apakah tokoh muda ataupun tua, tokoh kekinian ataupun tokoh kekunoan, dia ingin citranya selalu cantik, dan reputasinya senantiasa mencorong.

Sang tokoh akan selalu berusaha tidak akan melakukan kesalahan dan mengupayakan agae selalu berbuat benar. Jika berbuat salah? Tetap sama, dia ingin citra dan reputasinya tetap baik.

Di sinilah peranan ilmu komunikasi hadir mengemas situasi krisis yang terjadi bisa membawa ke arah perbaikan dan pemulihan citra melalui strategi public relations dengan pendekatan teori restorasi citra maupun online reputation management.

Studi kasus komunikasi yang aktual adalah masalah cuitan Staf Khusus (Milenial) Presiden Jokowi, Billy Mambrasar, yang akhirnya menyatakan bahwa dirinya tidak bermaksud berpihak pada kelompok masyarakat apapun.

Tidak cukup itu, Billy juga minta maaf kepada publik karena telah memicu polemik lewat cuitannya di Twitter dengan menyinggung kalimat ‘kubu sebelah megap-megap’.

Dari kacamata teori komunikasi, terutama Image Restoration Theory (pemulihan citra atau restorasi reputasi), setidaknya Billy sudah menggunakan dua strategi dalam upayanya memilihkan citra sebagai pejabat publik .

Pertama, Strategi Reducing Offensiveness of Event.

Dalam strategi ini ada pengkondisian bahwa meskiun ada kesalahan sebenarnya sangat pantas diberikan keringanan, bahkan diberikan pengampunan.

Dalam strategi ini, sebenarnya ada enam pilihan implementasi yang bisa dilakukan agar mendapatkan apresiasi publik yang positif sesuai dengan yang diharapkan.

Semuanya ada plus dan minusnya, tergantung seberapa besar krisis yang sedang dihadapi. Selain itu langkah strategi pemulihan citra itu pun memiliki konsekuensinya masing-masing.

Nah, dari sekian pilihan itu, menurut saya disadari atau tidak, Billy menggunakan taktik Minimize, untuk mengurangi gelombang besar yang akan menggerus reputasinya, dengan menyampaikan background dirinya.

“Sedari kecil saya diajari indahnya perdamaian dan saling sayang yang diajarkan Islam dan Kristen. Saya menyaksikan keindahan dari hidup di Indonesia, di tengah-tengah keluarga kami. Dan tidak pernah sekalipun saya menyatakan hal-hal berbau ujaran kebencian dan kecurigaan terhadap agama apapun,” tulis Billy dalam cuitan twitter klarifikasinya

Kedua, Strategi Mortification.

Strategi ini menjadi alternatif paling akhir yang disebut oleh Prof. William Benoit dalam Image Restoration Theory (teori pemulihan citra).

Strategi ini dinilai sangat elegan, karena mengakui kesalahan, dan dengan jelas meminta pengampunan atas kesalahan tindakan yang sudah dilakukan.

Menurut Wikihow, permintaan maaf merupakan ungkapan penyesalan untuk kesalahan yang sudah diperbuat, dan berfungsi sebagai sarana untuk memperbaiki hubungan setelah kesalahan terjadi.

“Saya pertama memohon maaf atas kesalahpahaman yang muncul karena salah satu cuitan saya yang menggunakan kata yang menimbulkan multitafsir, yaitu kata: ‘kubu’,” cuit Billy di akun twitter @kitongbisa.

Mestinya Case Close

Billy sudah menghapus cuitan yang membuat polemik di masyarakat. Itu saja tidak cukup. Penggunaan strategi Reducing Offensiveness of Event saja pun, saya kira tidak cukup.

Setidaknya menggunaan dua strategi (sekaligus) komunikasi pemulihan citra ini, yang akan efektif untuk menangani masalah manajemen reputasi seperti ini.

Sulit dibayangkan seperti apa jadinya jika strategi Mortification ini tidak diambil. Bisa jadi urusannya akan menjadi lebih lebar dan bertambah panjang

Contoh kasus terbaru yang sukses menggunakan strategi Mortification adalah Sumawati Soekarnoputri. Baik pembacaan puisi atau pun pidatonya sempat menggegerkan ummat, tapi kini adem setelah minta maaf.

Pemberian maaf terjadi ketika orang yang merasa disakiti tergerak hatinya untuk memperbaiki hubungan dengan orang yang telah menyakitinya.

Secara spiritual, memaafkan dan membalas keburukan dengan kebaikan, merupakan perbuatan terpuji yang diyakini akan mendatangkan pahala dan keselamatan dari Allah.

Budi Purnomo Karjodihardjo adalah praktisi media dan komunikasi.

Baca juga tulisan Budi Purnomo Karjodihardjo yang lainnya, terutama seputar manajemen reputasi, manajemen krisis, pencitraan, restorasi reputasi, dan pemulihan citra di official website Budipurnomo.com. Terima kasih.

Budi dan timnya, RESTART – Media Restoration Agency, menyediakan waktu untuk membantu personal/korporasi yang menghadapi masalah komunikasi dengan pendekatan Crisis Management, Image Restoration Theory, dan Online Reputation Management]


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

OPINI

MENUNGGU STRATEGI RESTORASI CITRA SANDHY SONDORO

Published

on

Sandhy Sondoro, adalah seorang penyanyi, pencipta lagu dan pemain gitar berkebangsaan Indonesia.

Oleh : Budi Purnomo Karjodihardjo

BISA dipastikan, saat-saat ini adalah waktu yang “sangat tidak nyaman” bagi penyanyi Sandhy Sondoro. Masalahnya, gelombang serangan medsos menyerang citra, reputasi dan nama baiknya.

Nama Sandhy menjadi trending dengan tagar #SandhySondoroCabul. Hal ini berwal dari cuitan akun @opposite6890 yang menunjukkan hasil tangkapan layar akun Twitter Sandhy Sondoro, yakni @SondoroMusic.

Dari sisi komunikasi jelas merusak citranya. Kok Sandhy Sondoro dibilang cabul? Mencabuli siapa? Seberapa besar bentuk percabulannya? Benarkah itu perbuatan cabul?

Setelah ramai dibicarakan, akun Sandhy Sandoro dengan username @SondoroMusic tiba-tiba saja digembok. Padahal sebelumnya masih bisa bisa diakses publik.

Padahal media pasti menunggu-nunggu jawaban dari pelantun lagu “Malam Biru” untuk memenuhi prinsip pemberitaan yang berimbang, yaitu cover both side, sesuai perintah Kode Etik Jurnalistik.

Publik dan para penggemarnya pasti juga menunggu-nunggu respon apa yang akan dilakukan oleh Sandhy Shondoro.

Perlu manajemen reputasi

Apa yang menimpa Sandhy Sondoro biasa disebut krisis. Krisis merupakan suatu permasalahan besar yang tidak terduga dan memiliki dampak negatif sekaligus positif.

Pada korporasi, permasalahan ini bisa menghancurkan organisasi, karyawan, hingga reputasi perusahaan. Namun jika krisis dapat ditangani dengan baik oleh organisasi atau perusahaan, maka reputasi dan citra perusahaan tersebut justru akan menjadi lebih positif.

Krisis berbeda dengan masalah sehari-hari, krisis sering menarik minat dan menjadi perhatian publik melalui liputan media. Keadaan seperti ini dapat mengganggu institusi maupun tokoh personal seperti selebriti.

Diperlukan langkah-langkah komunikasi yang tepat, strategi public relations dan manajemen reputasi yang efektif.

Karena serangan reputasi sudah terjadi maka manajemen reputasi yang sebaiknya dilakukan adalah image restoration strategi (strategi pemulihan citra atau restorasi reputasi.

Mengenai taktik dan langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk strategi pemulihan citra, banyak jalan yang ditawarkan oleh Prof. William Benoit penemu Image Restoration Theory.

Rekomendari restorasi citra

Tidak gampang untuk mengambil keputusan yang terbaik agar bisa mengcounter pemberitaan negatif seputar dirinya, sehingga Sandhy Sondoro memerlukan waktu yang agak panjang meskipun ditunggu publik.

Padahal keinginan untuk mendapatkan citra yang baik ataupun reputasi yang bagus adalah cita-cita semua orang. Ya, orang yang baik dan orang yang buruk ingin citranya selalu baik.

Orang yang lebih buruk dari Shandy Sondoropun ingin citranya selalu, termasuk orang-orang yang menyerang dan berkomentar burukpun ingin citranya baik.

Lalu apa yang harus dilakukan? Menurut pandangan saya, situasi krisis ini harus dipadamkan segera, pada kesempatan pertama, agar api krisis tidak menghanguskan semuanya.

Dalam konteks kecepatan meredam isu negatif, Sandhy Sondoro perlu belajar dari selebritis yaitu Robin Onsu yang sangat sigap meredam isu pesugihan yang menyerang bisnisnya. Api hoaks langsung padam seketika.

Masalahnya, strategi restorasi citra apa yang tepat dilakukan Sandhy Sondoro untuk masalah ini? Kalau pertanyaan ini diajukan kepada saya, jawabannya adalah Strategi Mortification.

Mengapa? Dalam pandangan saya, strategi restorasi citra Mortification ini pilihan yang terbaik. Baik salah/tidak merasa salah, meminta maaf merupakan perbuatan yang terpuji.

Seseorang yang berani meminta maaf sejatinya telah menunjukkan keberaniannya dalam berkomitmen untuk bersegera memperbaiki diri.

Mengakui bersalah, dan meminta maaf dari orang-orang yang telah dirugikan atau tersinggung tentu baik, apalagi tidak ada yang dirugikan adalah hal yang luar biasa.

“Jika kita percaya permintaan maaf itu tulus, kita akan memaafkan suatu kesalahan” tulis Benoit yang medasari Strategi Mortification ini.

Strategi Mortification menjadi alternatif paling akhir yang disebut oleh Prof. William Benoit dalam Image Restoration Theory (teori pemulihan citra).

Strategi ini dinilai sangat elegan, karena mengakui kesalahan, dan dengan jelas meminta pengampunan atas kesalahan tindakan yang sudah dilakukan.

Bahkan srategi “penyiksaan diri” dalam teori Benoit pernah menjadi tema utama yang menarik dari tulisan pakar komunikasi yang lainnya, yaitu Burke.

Adapun mekanismenya bisa dilakukan melalui media press conference, distribusi press release, maupun publikasi di akun medsos Sandhy Sondoro sendiri. Namun menggunakan tiga media di atas, hasilnya akan sangat dahsyat.

Budi Purnomo Karjodihardjo adalah praktisi media dan komunikasi.

Baca juga tulisan Budi Purnomo Karjodihardjo yang lainnya, terutama seputar manajemen reputasi, manajemen krisis, pencitraan, restorasi reputasi, dan pemulihan citra di official website Budipurnomo.com. Terima kasih.

Budi dan timnya, RESTART – Media Restoration Agency, menyediakan waktu untuk membantu personal/korporasi yang menghadapi masalah komunikasi dengan pendekatan Crisis Management, Image Restoration Theory, dan Online Reputation Management]

(*) Tulisan ini sudah dipublikasikan media Tribunnews.com


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending