Connect with us

OPINI

STRATEGI RUBEN ONSU MEMULIHKAN CITRA INSTITUSI BISNISNYA

Published

on

Ruben Onsu dan Pengusaha Indonesia, Sandiaga Uno.

Oleh : Budi Purnomo Karjodihardjo

Setiap kabar kurang sedap yang menimpa terhadap tokoh ataupun institusi pada hakekatnya pasti harus diklarifikasikan dan diluruskan sesegera mungkin.

Prof William Benoit yang melahirkan Image Restoration Theory menyebutkan bahwa terlepas dari persepsi publik itu salah atau benar, tetapi dari sisi komunikasi pada prinsipnya setiap tokoh atau institusi ingin agar dirinya terlihat lebih baik dan terlihat lebih benar.

Jika pun kabar tidak sedap itu datangnya dari internal personal/korporasi tentu harus “dibereskan”. Apalagi jika kabar tidak sedap itu datangnya dari eksternal, tentu saja hal ini sifatnya menjadi sangat mendesak untuk disolusikan

Itulah sebabnya mengapa dalam setiap strategi komunikasi (apalagi ketika terjadi krisis komunikasi) seperti yang dialami selebritas diperlukan upaya-upaya pemulihan citra dan reputation recovery seperti yang disampaikan dalam teori komunikasi Image Restoration Theory.

SERANGAN ISU PESUGIHAN

Belum lama ini, usaha kuliner milik presenter sekaligus artis Ruben Onsu diusik kabar tidak sedap hingga dituding isu pesugihan.

Ramai diberitakan media, awal mula isu tersebut berhembus dari sebuah video YouTube milik Robby Purba yang tengah berbincang dengan Roy Kiyoshi serta anak indigo bernama Dephienne.

Dalam video itu, Roy Kiyoshi membahas mengenai beberapa ciri-ciri restoran yang memakai pesugihan atau bisa dibilang penglaris. Sontak pertanyaan yang lantas dilayangkan Robby Purba mengenai siapa saja yang memakai pesugihan.

Kepada Dephienne, Robby hanya meminta inisial restoran terkenal yang memakai pesugihan hingga kemudian muncul dengan inisial “G” dan kepada Roy Kiyoshi, Robby Purba kembali bertanya soal restoran yang memakai pesugihan yang memakan nyawa. Di sini, Roy mengeluarkan inisial huruf “R”.

Sayang tak lama setelah itu, ada sebuah akun YouTube yang bernama Hikmah Kehidupan justru kembali mengunggah video potongan obrolan dari Robby Purba, Roy Kiyoshi dan Dephienne mengenai restoran yang menggunakan penglaris.

Tak hanya itu, media onlime Kompas menulis, akun tersebut menuding restoran Ruben Onsu lah yang memakai pesugihan. Dari sini isu itu berkembang hingga memunculkan fitnah untuk Ruben Onsu.

IMAGE RESTORATION THEORY: ATTACT ACCUSER

Saya tidak ingin membahas soal content material terkait masalah hukumnya, marena hingga saat ini masalah tersebut masih jadi trending pemberitaan di berbagai saluran berita infotainment.

Secara khusus kita akan memotret strategi komunikasi yang dilakukan oleh Robin Onsu dari kacamata teori pemulihan citra yang saya pahami.

Salah satu pilar penting dalam implementasi Image Restoration Theory atau teori pemulihan citra ini adalah strategi yang disebut Reducing Offensiveness of Event.

Dalam strategi Reducing Offensiveness of Event, goalnya nanti akan mengkondisikan bahwa pihaknya menjadi korban akibat kabar buruk yang bisa jadi akibat kesalahan informasi.

Dengan demikian, sebagai korban, Robin Onsu dan institusi bisnisnya sangat tidak pantas mendapat serangan isu negatif sehingga publik diharapkan mengabaikan kabar buruk tersebut.

Nah, dari sekian pilihan Reducing Offensiveness of Event, menurut saya (disadari atau tidak) Robin Onsu terlihat memilih implementasi dari strategi komunikasi ROE yang nomer lima, yaitu Attack Accuser.

Cara kerja Attack Accuser adalah dengan menyerang kredibilitas yang menuduh, dan dengan mempertanyakan kompetensi, latar belakang, track record dan hal-hal lainnya, agar perhatian negatif publik pun berpindah ke si penuduh.

Merespon isu yang sudah berkembang, pihak Robin Onsu mengggandeng pengacara Minola Sebayang yang resmi mempolisikan akun YouTube Hikmah Kehidupan yang fitnah usahanya pada Senin (11/11/2019).

Jordi Onsu menjerat akun tersebut dengan Pasal 27 Ayat (3) jo Pasal 45 ayat (3) UU RI Nomor 19 Tahun 2016 tentang ITE. Laporan ini telah terdaftar dengan nomor LP/7253/XI/2019/PMJ/Dit. Reskrimsus

“Kami melapor satu akun digital yang sudah memberikan berita bohong, yang isinya fitnah dan pencemaran nama baik,” ucap Minola Sebayang.

Implementasi dari program ini bisa dilihat bukan hanya di dunia nyata, dan di persidangan, juga di dunia digital pun strategi Attack Accuser ini bisa terlihat dan efektif.

Publik juga mulai bersimpati kepada Robin Onsu, semetara itu penyerangnya yang menyebarkan kabar buruk di medsos, jika tidak punya bukti, dipastikan bakal kesulitan untuk membuktikan masalah isu pesugihan ini.

BUKAN SATU-SATUNYA STRATEGI PEMULIHAN CITRA

Reducing Offensiveness of Event, bukanlah satu-satunya cara untuk memulihkan citra. Dalam Image Restoration Theory, selain strategi Attack Accuser, sebenarnya masih ada lima strategi lainnya di dalam lingkup strategi Reducing Offensiveness of Event (ROE).

Menurut saya, strategi komunikasi yang lainnya pun perlu dipertimbangkan ketika mengalami persoalan krisis komunikasi seperti ini, agar meraih simpati publik.

Namun demikian, tidak semua krisis komunikasi selalu cocok dengan cara-cara pemulihan citra berdasarkan Image Restoration Theory, berikut ini :

Pertama, adalah Bolstering. Yaitu dengan mengutip dan menyajikan data-data mengenai tindakan-tindakan positif sebanyak mungkin yang sudah dilakukan di masa lalu, dan bisa diterima publik dengan baik.

Kedua, adalah Minimization. Melakukan upaya-upaya yang bisa mengurangi perasaan negatif dengan cara-cara persuasi kepada publik, sekaligus meyakinkan publik bahwa yang terjadi tidaklah seburuk seperti yang dipikirkan, dipersepsikan, atau bahkan yang terjadi.

Ketiga, adalah Differensiasi. Yaitu dengan membandingkan perbedaan perlakuan atas kesalahan yang dilakukannya dengan yang dilakukan orang lain yang juga melakukan hal yang sama.

Keempat, adalah Trancendence. Yaitu dengan membandingkan suatu kejadian tetapi dalam konteks yang berbeda.

Kelima, adalah Compensation. Yaitu dengan memberikan ganti rugi sebagai bentuk tanggungjawab atau menebus kesalahan yang telah terjadi, agar perbuatannya diampuni dan reputasi balik menjadi baik.

KABAR BURUK SELALU MERUGIKAN

Kerugian dan dampak bagi Robin Unsu akibat kabar tidak sedap ini bisa dikalkulasi. Secara inmaterial sudah terasa bagi pihak Ruben Onsu. Kalau untuk kerugian material, pihak Ruben Onsu masih belum dapat berbicara banyak.

“Pasti ada efeknya dan ada akibat hukum yang ditimbulkan. Kerugiannya masih immaterial, karena pencemaran nama baik ya dan privasinya kami yang sudah diganggu ya,” kata pengacara Robin Onsu.

Menghadapi persoalan komunikasi yang rumit, memang diperlukan strategi yang tepat akan menghasilkan pencitraan sesuai dengan yang diharapkan.

Pilihan-pilihan implementasi dalam Image Restoration Theory di atas dapat menjadi referensi untuk pengambilan keputusan untuk menghandle crisis of communications.

Soal efektifitasnya, tentu harus disimulasikan dengan seksama. Namun memilih resiko yang kecil dengan respon publik yang paling bersahabat, saya rasa itulah yang paling efektif.

Yang jelas, jika personal/institusi sedang mengalami krisis komunikasi, jangan tenggelam atau diam di dalam jurang kegelapan. (*)

Budi Purnomo Karjodihardjo adalah seorang mediapreneur dan praktisi komunikasi. Budi dan timnya, RESTART – Media Restoration Agency, menyediakan waktu untuk membantu personal/korporasi yang menghadapi masalah komunikasi dengan pendekatan Image Restoration Theory.


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

OPINI

Strategi PR Pilihan Dato Sri Tahir untuk Merestorasi Citra

Published

on

Dato’ Sri Prof. Dr. Tahir, MBA adalah seorang pengusaha di Indonesia, investor, filantropis, sekaligus pendiri Mayapada Group.

Oleh : Budi Purnomo Karjodihardjo

DISADARI atau tidak oleh Dato Sri Tahir — dalam pandangan saya, Tahir sudah sangat tepat dalam melakukan strategi komunikasi dan langkah-langkah public relations untuk melakukan image restoration (pemulihan citra atau restorasi citra) yang dihadapinya.

Tahir adalah pendiri kelompok bisnis Mayapada Group, yang termasuk Orang Terkaya Indonesia Nomor 7 versi media Forbes, dia juga menantu Mochtar Riady, pendiri Lippo Group. Tahir baru saja diangkat menjadi salah satu anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres RI) Jokowi.

Masalah Inkonsistensi Informasi

Seperti yang diketahui, ada masalah komunikasi dalam sinkronisasi informasi, terutama saat beliau menanggapi pers terkait Jiwasraya, meskipun dalam hal ini bisa dipastikan bahwa Tahir sama sekali tidak terkait ataupun tersangkut dengan urusan Jiwasraya. Tidak ada hubungannya.

Namun berdasarkan data online, terlihat ada inkonsistensi antara pernyataan Tahir dengan fakta yang berkembang di pasar modal pada saat itu. Tahir pernah mengatakan pihaknya tidak pernah mau membeli saham maupun akuisisi dari siapapun.

Jadi itu hoax total. Kami tidak pernah ada rencana mau beli atau ambil alih saham, siapapun. Termasuk saham-saham milik Pak Benny [Direktur Utama MYRX Benny Tjokrosaputro], apapun namanya,” ucap Tahir.

Statemen Tahir itu muncul di dalam berita yang dipublikasikan media Bisnis.com edisi 27 Desember 2019, dengan judul “Mayapada Group Tegaskan Tak Terkait dengan Kasus Jiwasraya“.

Sementara itu, dalam keterbukaan informasi di situs Bursa Efek Indonesia pada 17 Desember 2019, manajemen Hanson mengumumkan rencana menjual 49,99 persen saham perseroan di anak usahanya, PT Mandiri Mega Jaya. Saham itu akan dibeli oleh emiten properti yang terafiliasi dengan Grup Mayapada, PT Maha Properti Indonesia Tbk. (MPRO).

Mandiri Mega Jaya merupakan anak usaha Hanson yang menggarap proyek properti Citra Maja Raya, di Maja, Lebak, Banten. Dalam proyek itu, Mandiri Mega menjalin kerja sama operasional dengan PT Ciputra Development Tbk. dan PT Bhuwanatala Indah Permai Tbk (BIPP).

Selain Hanson International, Rimo International Lestari juga berencana melego sebagian saham dalam anak usahanya kepada Maha Properti. Perusahaan yang juga terafiliasi dengan Benny Tjokrosaputro (atau Benny Tjokro) itu berencana melepas 49,99 persen saham miliknya dalam PT Hokindo Properti Investama.

Berbagai berita media bisnis, pun kemudian mengutip pengumuman ini, dan mempublikasikan judul berbeda-beda. Meskipun judulnya berbeda, namun poinnya sama saja, yaitu ada rencana corporate action perusahaan milik Tahir dan Benny Tjokro, di bursa efek. Berbagai media mempublikasikan hal ini, contohnya :

  • Media Kontan.co.id, edisi 17 Desember 2019, menulis berita dengan judul “Emiten Properti Milik Keluarga Dato’ Sri Tahir Beli Perusahaan Benny Tjokro“.
  • Media CNBCindonesia.com edisi 18 Desember 2019, juga membuat berita dengan judul “Tahir akan Akuisisi Anak Perusahaan Benny Tjokro”
  • Berbagai media lainnya, silahkan googling.

Sedangkan hal lainnya yang terpisah dengan hal ini, namun menyangkut skandal Jiwasraya, Kejaksaan Agung pada 14 Januari 2020, sudah menetapkan 5 orang tersangka kasus korupsi Jiwasraya, termasuk Benny Tjokro.

Pernyataan Dato Sri Tahir

Pasca rencana corporate action dua konglomerat ini, tidak termonitor ada pernyataan resmi dari pihak Tahir seputar rencana corporate action dari perusahaan-perusahaan Tahir ataupun Benny Tjokro, hingga akhirnya Kejaksaan Agung menetapkan Benny Tjokro menjadi tersangka skandal Jiwasraya.

Pasca pengumuman Kejagung, akhirnya Tahir membuat pernyataan signifikan yang sangat material dan penting. Jika dilaporkan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) secara resmi, bisa jadi menjadi bahan keterbukaan informasi atau fakta material emiten.

Media Tempo, edisi Minggu, 17 Januari 2020, menulis berita dengan judul “Dato Tahir Batalkan MoU dengan Perusahaan Tersangka Jiwasraya”.

Setidaknya, ada tiga poin yang disampaikan Tahir di media ini. Pertama, membantah perusahaannya akan membeli saham PT Hanson International Tbk (kode perdagangan di Bursa Efek Indonesia MYRX), milik tersangka kasus dugaan korupsi PT Asuransi Jiwasraya (Persero) Benny Tjokrosaputro.

“Tidak mungkin terjadi itu. Coba dicek lagi, tidak pernah terjadi pembelian Hanson,” kata dia saat dihubungi Tempo, Ahad, (19/1/2020).

Kedua, Tahir mengakui Grup Mayapada pada Desember lalu pernah mengumumkan rencana pembelian saham Hanson di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia.

Namun, kata dia, rencana pembelian tersebut baru sebatas nota kesepahaman. “Setelah MoU tidak ditindaklanjuti lagi,” kata dia.

Ketiga, Tahir mengatakan, pertimbangan utama manajemen adalah lesunya bisnis properti saat ini, jadi tidak terkait dengan kasus dugaan korupsi Jiwasraya yang melibatkan Komisaris Utama Hanson Internasional, Benny Tjokro.

Corective Action Strategy

Nah, dalam ilmu komunikasi, terutama Teori Pemulihan Citra (Image Restoration Theory), apa yang dilakukan Tahir termasuk dalam dalam Strategi Corrective Action.

Corrective Action Strategy adalah strategi pemulihan citra dengan melakukan tindakan korektif, dimana pihak tertuduh berusaha untuk mengembalikan citranya dengan tindakan memperbaiki kegiatan yang sudah dilakukan, atau yang akan dilakukan.

Yang dilakukan Tahir, lebih dari itu. Dia melakukan tindakan korektif total dengan membatalkan corporate action perusahaannya di bursa efek. Menurut saya, langkah ini akan mengembalikan reputasi citranya menjadi lebih baik lagi, minimal seperti semula.

Begitulah. Strategi Corrective Action ini merupakan salah satu dari lima strategi atau jalan keluar untuk pemulihan citra, seperti yang ditawarkan oleh pencetus teori ini, yaitu Profesor Ohio University yaitu William Benoitt dalam bukunya “Account, Excuses, and Apologies” (1995).

Empat strategi lainnya yang dipercaya Benoitt bisa menjadi jalan keluar untuk memulihkan citra, adalah :

  1. Denial Strategy. Strategi ini dilakukan dengan upaya penolakan sebagai reaksi alami terhadap sebuah tuduhan. Caranya dengan membantah sudah melakukan tindakan yang ditudingkan.
  2. Evading of Responsibility Strategy. Penghindaran tanggung jawab terhadap tindakan tersebut. Tujuannya adalah untuk mengurangi tanggung jawab terhadap tindakan yang dimaksud, dengan berbagai alasan yang argumentatif.
  3. Reducing offensiveness of Event StrategyPada strategi ini, Benoit membuat pihak tertuduh (sekelompok orang/individu yang melakukan sebuah kesalahan) terlihat patut diberikan keringanan, dengan berbagai alasan dan argumentasi yang tepat.
  4. Mortification Strategy. Benoit menyebutkan strategi penyiksaan diri. Pihak tertuduh ini dapat memilih untuk mengakui kesalahan dan meminta pengampunan atau minta maaf.

Reputasi Lebih Penting daripada Uang

Siapapun tokoh yang disangkutpautkan dengan Asuransi Jiwasraya (meskipun tidak ada kaitannya) maka nama baik, reputasi, dan citra tokoh tersebut akan terganggu. Indeks reputasinya berpotensi turun.

Sudah jelas, hal ini memerlukan langkah, tindakan, dan upaya image restoration (pemulihan citra atau reputation repair) yang tepat.

Tahir sudah mengambil momentum yang tepat untuk memulihkan citranya, memperbaiki reputasi dan nama baiknya dengan konten yang relevan dan waktu yang sangat tepat.

Tidak semua orang bisa mengambil tindakan seperti beliau. Sebagai owner perusahaan, Tahir memiliki kekuasaan untuk membatalkan transaksi raksasa tersebut.

Pasti mahal sekali biaya reputasi citra untuk memisahkan diri dari Benny Tjokro yang tersangkut skandal Jiwasraya. Potensial gain yang kemungkinan akan diperoleh (jika terjadi transaksi) tentu juga besar sekali. Tahir, pasti sudah memperhitungkan semuanya ini.

Namun, sepertinya Tahir juga sepakat dengan investor pasar modal internasional Warren Buffett yang menyebutkan bahwa reputasi lebih penting daripada uang. Sehingga beliau memutuskan untuk tidak bertransaksi dengan Benny Tjokro.

Sukses selalu untuk pak Tahir — yang juga tokoh Filantropi Indonesia itu. (*)

Budi Purnomo S.IKom, M.IKom pernah memimpin Media Center sejumlah tokoh nasional, dan berpengalaman menangani masalah krisis citra, persepsi publik, dan reputasi : baik korporasi swasta, perusahaan publik, maupun BUMN. Tulisan-tulisannya seputar manajemen reputasi dan restorasi citra bisa dilihat di blog Budipurnomo.com

Kini, Budi Purnomo bersama tim Rep+ (Reputasi Plus) – Media Restoration Agency, Sapu Langit Communications, dan tim Master SEO Indonesia, menyediakan waktu untuk membantu personal dan korporasi/instansi yang menghadapi masalah komunikasi dengan pendekatan Crisis Management (CM), Cyber Public Relations (CPR), Online Reputation Management (ORM), dan Image Restoration Theory (IRT).


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

OPINI

Memotret Strategi Restorasi Citra dari Dato Sri Tahir

Published

on

Dato’ Sri Prof. Dr. Tahir, MBA adalah seorang pengusaha di Indonesia, investor, filantropis, sekaligus pendiri Mayapada Group.

Oleh : Budi Purnomo Karjodihardjo

DISADARI atau tidak oleh Dato Sri Tahir — dalam pandangan saya, Tahir sudah sangat tepat dalam melakukan strategi komunikasi dan langkah-langkah public relations untuk melakukan image restoration (pemulihan citra atau restorasi citra) yang dihadapinya.

Tahir adalah pendiri kelompok bisnis Mayapada Group, yang termasuk Orang Terkaya Indonesia Nomor 7 versi media Forbes, dia juga menantu Mochtar Riady, pendiri Lippo Group. Tahir baru saja diangkat menjadi salah satu anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres RI) Jokowi.

Masalah Inkonsistensi Informasi

Seperti yang diketahui, ada masalah komunikasi dalam sinkronisasi informasi, terutama saat beliau menanggapi pers terkait Jiwasraya, meskipun dalam hal ini bisa dipastikan bahwa Tahir sama sekali tidak terkait ataupun tersangkut dengan urusan Jiwasraya. Tidak ada hubungannya.

Namun berdasarkan data online, terlihat ada inkonsistensi antara pernyataan Tahir dengan fakta yang berkembang di pasar modal pada saat itu. Tahir pernah mengatakan pihaknya tidak pernah mau membeli saham maupun akuisisi dari siapapun.

“Jadi itu hoax total. Kami tidak pernah ada rencana mau beli atau ambil alih saham, siapapun. Termasuk saham-saham milik Pak Benny [Direktur Utama MYRX Benny Tjokrosaputro], apapun namanya,” ucap Tahir.

Statemen Tahir itu muncul di dalam berita yang dipublikasikan media Bisnis.com edisi 27 Desember 2019, dengan judul “Mayapada Group Tegaskan Tak Terkait dengan Kasus Jiwasraya”.

Sementara itu, dalam keterbukaan informasi di situs Bursa Efek Indonesia pada 17 Desember 2019, manajemen Hanson mengumumkan rencana menjual 49,99 persen saham perseroan di anak usahanya, PT Mandiri Mega Jaya. Saham itu akan dibeli oleh emiten properti yang terafiliasi dengan Grup Mayapada, PT Maha Properti Indonesia Tbk. (MPRO).

Mandiri Mega Jaya merupakan anak usaha Hanson yang menggarap proyek properti Citra Maja Raya, di Maja, Lebak, Banten. Dalam proyek itu, Mandiri Mega menjalin kerja sama operasional dengan PT Ciputra Development Tbk. dan PT Bhuwanatala Indah Permai Tbk (BIPP).

Selain Hanson International, Rimo International Lestari juga berencana melego sebagian saham dalam anak usahanya kepada Maha Properti. Perusahaan yang juga terafiliasi dengan Benny Tjokrosaputro (atau Benny Tjokro) itu berencana melepas 49,99 persen saham miliknya dalam PT Hokindo Properti Investama.

Berbagai berita media bisnis, pun kemudian mengutip pengumuman ini, dan mempublikasikan judul berbeda-beda. Meskipun judulnya berbeda, namun poinnya sama saja, yaitu ada rencana corporate action perusahaan milik Tahir dan Benny Tjokro, di bursa efek. Berbagai media mempublikasikan hal ini, contohnya :

  • Media Kontan.co.id, edisi 17 Desember 2019, menulis berita dengan judul “Emiten Properti Milik Keluarga Dato’ Sri Tahir Beli Perusahaan Benny Tjokro.
  • Media CNBCindonesia.com edisi 18 Desember 2019, juga membuat berita dengan judul “Tahir akan Akuisisi Anak Perusahaan Benny Tjokro”
  • Berbagai media lainnya, silahkan googling.

Sedangkan hal lainnya yang terpisah dengan hal ini, namun menyangkut skandal Jiwasraya, Kejaksaan Agung pada 14 Januari 2020, sudah menetapkan 5 orang tersangka kasus korupsi Jiwasraya, termasuk Benny Tjokro.

Pernyataan Dato Sri Tahir

Pasca rencana corporate action dua konglomerat ini, tidak termonitor ada pernyataan resmi dari pihak Tahir seputar rencana corporate action dari perusahaan-perusahaan Tahir ataupun Benny Tjokro, hingga akhirnya Kejaksaan Agung menetapkan Benny Tjokro menjadi tersangka skandal Jiwasraya.

Pasca pengumuman Kejagung, akhirnya Tahir membuat pernyataan signifikan yang sangat material dan penting. Media Tempo, edisi Minggu, 17 Januari 2020, menulis berita dengan judul “Dato Tahir Batalkan MoU dengan Perusahaan Tersangka Jiwasraya”.

Setidaknya, ada tiga poin yang disampaikan Tahir di media ini. Pertama, membantah perusahaannya akan membeli saham PT Hanson International Tbk (kode perdagangan di Bursa Efek Indonesia MYRX), milik tersangka kasus dugaan korupsi PT Asuransi Jiwasraya (Persero) Benny Tjokrosaputro.

“Tidak mungkin terjadi itu. Coba dicek lagi, tidak pernah terjadi pembelian Hanson,” kata dia saat dihubungi Tempo, Ahad, (19/1/2020).

Kedua, Tahir mengakui Grup Mayapada pada Desember lalu pernah mengumumkan rencana pembelian saham Hanson di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia.

Namun, kata dia, rencana pembelian tersebut baru sebatas nota kesepahaman. “Setelah MoU tidak ditindaklanjuti lagi,” kata dia.

Ketiga, Tahir mengatakan, pertimbangan utama manajemen adalah lesunya bisnis properti saat ini, jadi tidak terkait dengan kasus dugaan korupsi Jiwasraya yang melibatkan Komisaris Utama Hanson Internasional, Benny Tjokro.

Corective Action Strategy

Nah, dalam ilmu komunikasi, terutama Teori Pemulihan Citra (Image Restoration Theory), apa yang dilakukan Tahir termasuk dalam dalam Strategi Corrective Action.

Corrective Action Strategy adalah strategi pemulihan citra dengan melakukan tindakan korektif, dimana pihak tertuduh berusaha untuk mengembalikan citranya dengan tindakan memperbaiki kegiatan yang sudah dilakukan, atau yang akan dilakukan.

Yang dilakukan Tahir, lebih dari itu. Dia melakukan tindakan korektif total dengan membatalkan corporate action perusahaannya di bursa efek. Menurut saya, langkah ini akan mengembalikan reputasi citranya menjadi lebih baik lagi, minimal seperti semula.

Begitulah. Strategi Corrective Action ini merupakan salah satu dari lima strategi atau jalan keluar untuk pemulihan citra, seperti yang ditawarkan oleh pencetus teori ini, yaitu Profesor Ohio University yaitu William Benoitt dalam bukunya “Account, Excuses, and Apologies” (1995).

Empat strategi lainnya yang dipercaya Benoitt bisa menjadi jalan keluar untuk memulihkan citra, adalah :

  1. Denial Strategy. Strategi ini dilakukan dengan upaya penolakan sebagai reaksi alami terhadap sebuah tuduhan. Caranya dengan membantah sudah melakukan tindakan yang ditudingkan.
  2. Evading of Responsibility Strategy. Penghindaran tanggung jawab terhadap tindakan tersebut. Tujuannya adalah untuk mengurangi tanggung jawab terhadap tindakan yang dimaksud, dengan berbagai alasan yang argumentatif.
  3. Reducing offensiveness of Event StrategyPada strategi ini, Benoit membuat pihak tertuduh (sekelompok orang/individu yang melakukan sebuah kesalahan) terlihat patut diberikan keringanan, dengan berbagai alasan dan argumentasi yang tepat.
  4. Mortification Strategy. Benoit menyebutkan strategi penyiksaan diri. Pihak tertuduh ini dapat memilih untuk mengakui kesalahan dan meminta pengampunan atau minta maaf.

Reputasi Lebih Penting daripada Uang

Siapapun tokoh yang disangkutpautkan dengan Asuransi Jiwasraya (meskipun tidak ada kaitannya) maka nama baik, reputasi, dan citra tokoh tersebut akan terganggu. Indeks reputasinya berpotensi turun.

Sudah jelas, hal ini memerlukan langkah, tindakan, dan upaya image restoration (pemulihan citra atau reputation repair) yang tepat.

Tahir sudah mengambil momentum yang tepat untuk memulihkan citranya, memperbaiki reputasi dan nama baiknya dengan konten yang relevan dan waktu yang sangat tepat.

Tidak semua orang bisa mengambil tindakan seperti beliau. Sebagai owner perusahaan, Tahir memiliki kekuasaan untuk membatalkan transaksi raksasa tersebut.

Pasti mahal sekali biaya reputasi citra untuk memisahkan diri dari Benny Tjokro yang tersangkut skandal Jiwasraya. Potensial gain yang kemungkinan akan diperoleh (jika terjadi transaksi) tentu juga besar sekali. Tahir, pasti sudah memperhitungkan semuanya ini.

Namun, sepertinya Tahir juga sepakat dengan investor pasar modal internasional Warren Buffett yang menyebutkan bahwa reputasi lebih penting daripada uang. Sehingga beliau memutuskan untuk tidak bertransaksi dengan Benny Tjokro.

Sukses selalu untuk pak Tahir — yang juga tokoh Filantropi Indonesia itu.

Budi Purnomo S.IKom, M.IKom, pernah memimpin Media Center sejumlah tokoh nasional, dan berpengalamaan menangani masalah krisis citra, persepsi publik, dan reputasi : baik korporasi swasta, perusahaan publik, maupun BUMN. Tulisan-tulisannya seputar manajemen reputasi dan restorasi citra bisa dilihat di blog Budipurnomo.com

Kini, Budi bersama tim Rep+ (Reputasi Plus) – Media Restoration Agency, dan tim Master SEO Indonesia,  menyediakan waktu untuk membantu personal dan korporasi/instansi yang menghadapi masalah komunikasi dengan pendekatan Crisis Management (CM),  Cyber Public Relations (CPR), Online Reputation Management (ORM), dan Image Restoration Theory (IRT).


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

OPINI

STRATEGI MEDIA CENTER UNTUK MEMENANGKAN PERANG UDARA DI PILKADA 2020

Published

on

Dalam setiap Pilkada selalu ada saja calon Pemimpin Daerah yang menghalalkan segala cara untuk meraih dukungan, dengan cara menjatuhkan lawan politiknya demi kemenangannya.

Oleh : Budi Purnomo Karjodihardjo

SEBENTAR lagi tahun 2020, Indonesia memasuki musim Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Pilkada serentak 2020 merupakan Pilkada gelombang keempat yang dilakukan untuk kepala daerah hasil pemilihan Desember 2015.

Sebanyak 270 daerah mengadakan Pilkada serentak, dengan rincian, ada : 9 provinsi, 224 kabupaten, dan 37 kota. Seharusnya diikuti 269 daerah, namun menjadi 270 karena Pilkada Kota Makassar diulang pelaksanaannya.

Banyak yang bertanya, apa kunci sukses untuk memenangkan Pilkada 2020? Dengan tegas saya sampaikan bahwa, kuncinya ada di tim Media Center, terutama Online Reputation Manajemen (ORM) atau manajemen reputasi online. Apa itu? Nanti dijelaskan.

Secara garis besar, ujung tombak tim Kampanye Pasangan Pilkada memiliki tiga pilar struktur utama yaitu : Pertama, Tim Kesekretariatan. Kedua, Tim Sosialisasi & Kampanye (Soskam). Ketiga, Tim Media & Komunikasi (atau Media Center).

Seringkali, Tim Soskam ini disebut Tim Darat, sedangkan Tim Media Center disebut sebagai Tim Udara. Kedua pilar ini adalah ujung tombak yang memiliki target yang sama yaitu memenangkan peperangan Pikada, di darat dan di udara.

Tim Darat biasanya dikuasai oleh partai pengusung yang mengklaim memiliki konstituen yang sudah konfirm dipastikan akan mendukung Pasangan Pilkada.

Namun, jika dukungan partai pengusung dianggap tidak kuat, atau meragukan, maka untuk memperkuat dukungan biasanya juga dibentuk sejumlah grup Tim Relawan untuk membantu memenangkan Tim Darat.

Sedangkan Tim Udara biasanya diisi kaum profesional (bisa juga pihak yang terafiliasi dengan partai) yang memahami dunia Media Center. Tim inilah yang akan melakukan komunikasi, sosialisasi, dan kampanye di semua saluran komunikasi.

Tulisan tidak akan membahas banyak soal Tim Kesekretariatan, dan Tim Soskam (Tim Darat), namun lebih menyoroti Tim Media Center, yang terkait dengan Online Reputation Management (ORP) atau manajemen reputasi online.

Tim Media Center

Perlu dipahami bahwa tugas Media Center yang utama adalah meningkatkan popularitas. Karena dari menabur benih popularitas lah maka kita akan memanen elektabilitas.

Jika elektabilitasnya juara, maka potensi untuk meraih kesuksesan dalam suatu pilkada juga akan sangat besar.

Media Center pada umumnya memiliki tiga sayap divisi utama di dalamnya, yaitu :

Pertama, Media Relations. Tim ini bertugas untuk mendapatkan dukungan dari media dan jurnalis. Langkah yang dilakukan adalah menyiapkan bahan-bahan publikasi, dan memberikan kemudahan kepada media untuk mendapatkan narasumber.

Kedua, Tim Media Sosial. Peranan tim Media Sosial juga sama pentingnya denga tim Media Relations. Kedua tim ini bisa sali melengkapi. Tujuan utama tim Media Sosial adalah agar kandidat mendapatkan raihan dukungan dari netizen

Ketiga, Tim Marketing Communications. Diperlukan strategi periklanan yang tepat untuk media buying dan media placement untuk penempatan iklan dan promosi kandidat. Tim Marcomm inilah yang bergerak.

Political branding yang tepat, dengan disain iklan yang pas sangat mempengaruhi persepsi publik terhadap sang kadidat. Karena itu pengukuran efektifitas penempatan media promosinya harus diperhitungkan secara matang.

Apakah Tim Media Center dengan tiga tim ini sudah cukup? Bagi saya belum cukup. Tiga tim di atas baru sebatas Front Office Media Center yang tampil di depan. Masih perlu ada Back Office Media Center yang berperang secara diam-diam di udara, seperti siluman.

Tim Online Reputation Management

Tidak bisa dihindari, meskipun ada larangan dan di bawah ancaman hukum, namun peredaran berita fitnah, kampanye hitam dan hoaks tetap saja tumbuh dengan subur, dan menyebar dengan luas secara cepat.

Apalagi, hanya berita negatif atau kampanye negatif, pasti dengan mudah akan membanjiri media online dan media sosial di musim kampanye Pilkada 2020 nanti.

Dalam setiap Pilkada selalu ada saja calon Pemimpin Daerah yang menghalalkan segala cara untuk meraih dukungan, dengan cara menjatuhkan lawan politiknya demi kemenangannya.

Nah, siapa yang bisa menenggelamkan berita dan kampanye negatif atau bahkan kampanye hitam dan hoaks yang menyerang dunia online pasangan Pilkada kita? Tim Media Relations? Bukan.

Tim Media Relations bertugas menjalin hubungan baik dengan kalangan jurnalis untuk memudahkan publikasi yang diproduksi, termasuk menbuat klarifikasi jika ada berita negatif yang tidak benar. Lebih untuk menjaga keseimbangan berita saja, news of balance.

Namun untuk tugas menenggelamkan berita-berita sampah di dunia online, seperti rumor, gosip, berita negatif dan fitnah adalah tugas Tim Online Reputation Management (ORP) atau manajemen reputasi online, saya sering menyebutnya sebagai Tim Sapu Langit.

Dalam konteks Pilkada, ORM adalah sebuah strategi untuk mengontrol segala interaksi, aktivitas, dan feedback terhadap pasangan Pilkada, khususnya yang terjadi di dunia online.

Bagi pasangan Pilkada, munculnya informasi, komentar, atau sentimen negatif, khususnya di digital (mesin pencari Google) tentu dapat menjadi ancaman. Karena hal negatif dapat berpengaruh negatif terhadap reputasi pasangan Pilkada.

Di sinilah peran ORM dibutuhkan. Tujuannya agar online reputation pasangan Pilkada tersebut ‘baik’ di mata calon pemilih maupun konstituen. Nama yang baik pasangan Pilkada di dunia online akan memberikan kesan dan persepsi yang baik juga.

Cara Kerjanya Bagaimana?

Sebenarnya ini teknis sekali, jika punya tim yang mumpuni segera diaktivasi dan ditandemkan dengan Tim Media Center agar bisa langsung bersinergi secara optimal. Jika belum ada tim, lebih baik serahkan pada ahlinya.

Bayangkan ketika calon pemilih mengecek dengan googling nama-nama pasangan Pilkada kita, namun yang muncul adalah berita-berita sampah yang menyerang? Sangat menyakitkan karena persepsi calon pemilih pun bisa berubah.

Tim ORP harus memiliki kapasitas dan kapabilitas untuk adalah membersihkan Google halaman 1 dari polusi berita negatif pasanan Pilkada. Selain menenggelamkan berita negatif, tim ini harus bisa menggeser berita positif ke Halaman 1 Google.

Berita negatif sangat penting untuk dihilangkan dari halaman 1 google, karena kecenderungan pengguna Google hanya membuka halaman 1 Google, dan mengklik satu dari 5 saran teratas di halaman hasil (SERP, search engine result page).

Tim ORM juga akan mengoptimasi Press Release positif hasil klarifikasi dan data/fakta yang sudah diterbitkan di berbagai media online mainstream, maupun media sosial seluas-luasnya.

Selanjutnya tim ORP akan melakukan langkah-langkah yang tepat untuk mencari solusi soal ini. Halaman pencarian Google tidaklah permanen. Berita yang miring dapat disingkirkan, dan digantikan dengan berita positif yang melegakan.

Secara garis besar, untuk mencapai goal tersebut tim akan membangun dan menulis berita positif (re-frame) dengan melakukan posting pada blog network di berbagai kanal. Tim juga akan mengunggah foto maupun video pada kanal yang tepat.

Selain itu, dengan terbitnya berita-berita klarifikasi, dan berita sejuk yang kondusif di media mainstrem nasional tentu semakin medukung dan melengkapi suplay bahan berita yang positif semakin mudah untuk menenggelamkan berita negatif.

Dengan modal inilah, tim inti ORP, yatu tim Search Engine Optimation (SEO) bisa bekerja secara optimal. Tim SEO inilah yang bertanggumgjawab untuk mengoptimasi seluruh konten, dan menatanya agar yang positif tampil di halaman 1 Google dan menggeser berita negatif secara kreatif (de-indexing) ke halaman belakang google.

Begitulah, jika langit online menjadi bersih dan cerah kembali, serta tidak ada lagi berita yang tidak diharapkan muncul di halaman satu Google, maka sesungguhnya pasangan Pilkada Anda sudah menang di udara.

Berarti tinggal selangkah lagi Anda memenangkan perang di darat. Setidaknya Tim Udara sudah memberikan kontribusi maksimal suatu infrastruktur dan jalan yang bagus untuk Tim Darat menyerang dan menangkis.

Saatnya kombinasi antara Tim Partai dan Tim Relawan membuktikan kehebatannya — yang diterjemahkan dengan banyaknya jumlahnya suara yang memenangkan pasangan Pilkada kita. Selamat berpesta domokrasi.(*)

(*) Budi Purnomo S.IKom, M.IKom adalah praktisi media dan komunikasi.

Budi Purnomo S.IKom, M.IKom, pernah memimpin Media Center sejumlah tokoh nasional, dan berpengalamaan menangani masalah krisis citra, persepsi publik, dan reputasi : baik korporasi swasta, perusahaan publik, maupun BUMN. Tulisan-tulisannya seputar manajemen reputasi dan restorasi citra bisa dilihat di blog Budipurnomo.com

Kini, Budi bersama tim Rep+ (Reputasi Plus) – Media Restoration Agency, dan tim Master SEO Indonesia,  menyediakan waktu untuk membantu personal dan korporasi/instansi yang menghadapi masalah komunikasi dengan pendekatan Crisis Management (CM),  Cyber Public Relations (CPR), Online Reputation Management (ORM), dan Image Restoration Theory (IRT).


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending